Kursus Agama Islam

Mengerti Islam Secara Lengkap

Hubungan Zoroastrianisme Terhadap Agama Abrahamik

Posted by admin pada Juli 8, 2011

Perlu diakui bahwa dalam interaksi sosial budaya, akan terjadi pengambilan ide-ide antar kaum/bangsa. Termasuk dalam urusan agama / kepercayaan. Zoroastrianisme adalah sebuah agama tua yang mempunyai banyak pengaruh dalam peradaban umat manusia di kemudian hari. Pendiri agama ini adalah seorang Persia(sekarang-Iran) bernama Zaratustra. Dalam sejarah agama dunia, Zoroastrianisme kemungkinan besar adalah agama monoteis pertama di dunia. Zoroastrianisme pernah menjadi agama resmi kerajaan Persia.

Hampir semua ahli sejarah dunia sepakat bahwa ide ajaran yang diusung agama Abrahamik (Yudaisme, Kristen & Islam),  berasal dari Zoroastrianisme. Meski khusus untuk Yudaisme, ada beberapa ahli sejarah yang masih memperdebatkan hal ini.  Namun,gaya bahasa dan penulisan manuskrip Zoroastrian cenderung menunjukkan bahwa agama ini jauh lebih tua dari Yudaisme. Mari kita bahas beberapa hal mengenai ide-ide pokok ajaran agama Abrahamik, terkait dengan Zoroastrianisme.

Zoroastrianisme, Yudaisme & Kristen

Widengren menyatakan:

Kepentingan sejarah agama-agama Iran  ada pada peran besar yang mereka mainkan dalam perkembangan iran  dan dalam kuatnya pengaruh agama tipe Iran yang ada di Barat, khususnya pada agama Yahudi setelah masa pembuangan; pada agama-agama misterius Hellenistik seperti Mithraisme; Gnosticisme; dan Islam, dimana gagasan-gagasan iran ditemukan, baik dalam Sekte Syiah, sekte- sekte utama abad pertengahan dan pada agama (aliran) islam lain serta eskatologi populer lainnya. Widengren  juga menunjukkan pengaruh Zoroastrianisme pada Perjanjian Lama selama pembuangan Babilon pada Yahudi dalam karya Die Religionen Irans (1965).

Morton Smith mungkin yang pertama menunjukkan kemiripan antara Yesaya 40-48 dengan himne Zoroastrianisme yang dikenal sebagai Gatha, khususnya Gatha 44.3-5: gagasan bahwa Tuhan menciptakan terang dan gelap ada di keduanya.

John Hinnels menulis “Zoroastrian Savior Imagery and Its  Influence on the New Testament,” dengan pengaruhnya yang berkembang lewat kontak-kontak orang Yahudi dengan orang Parthian pada abad ke-2 SM dan pertengahan abad ke-1 M.

Konsep Tuhan & Wahyu

Ahura Mazda (juga disebut Ohrmazd, Hourmazd, Hormazd, Aramazd and Azzandara) adalah Tuhan dari peradaban Persia kuno.  Ia dideskripsikan sebagai yang Maha Ada, Maha Kuasa dan Abadi, memiliki Kekuasaan dan Daya Cipta Tinggi.  Tuhan ini mempunyai perantara untuk menyampaikan pesan. Ia disebut Spenta Mainyu (Roh Suci) dan mengatur jagat raya lewat para malaikat. Tapi  Kekuasaan Tuhan, dihalangi oleh musuhnya, Ahriman, mirip dengan Setan, yang akan dihancurkan pada akhir dunia.

Disini  ada  kemiripan dalam ajaran eskatologinya, doktrin dunia yang melakukan  regenerasi, kerajaan sempurna,  kedatangan penyelamat/messiah, kebangkitan orang mati dan hidup selama-lamanya. Ahura Mazda menurunkan wahyu dan perintahnya pada Zoroaster digunung tempat pertemuan suci;  YHWH  melakukan pertemuan yg mirip yaitu dengan Musa di gunung Sinai.

Konsep Penyucian

Aturan penyucian Zoroastrian terutama  praktek membuang kekotoran (yg menyebabkan kenajisan) karena kontak dengan mayat atau materi kotor lain  ada dalam Avestan Vendidad yg hampir mirip dengan aturan kitab Imamat.

Masa Penciptaan

Enam hari  penciptaan dalam Kitab Kejadian mirip dengan  enam  perioda penciptaan yang dituliskan dalam ayat-ayat Zoroastrian.

Adam & Hawa

Dalam agama abrahamik, umat manusia berasal dari Adam dan Hawa. Sama halnya dengan Zoroastrianisme. Mashya (lelaki) serta Mashyana (perempuan) adalah Adam dan Hawa versi agama asli Persia ini.

Kisah Air Bah

Kisah banjir bandang dalam agama Abrahamik, dideskripsikan telah menghancurkan seluruh umat manusia kecuali sekelompok orang saleh beserta keluarganya; dalam Avesta (kumpulan teks suci Zoroastrianisme),  sebuah musim dingin memusnahkan populasi bumi kecuali keluarga Yima  di Vara. Dalam kedua kisah tersebut, bumi diisi  oleh orang-orang baru dengan sepasang makhluk terbaik utk tiap jenis, dan lalu  bumi terbagi menjadi tiga kerajaan.

Tiga  anak dari penerus  Yima, Thraetaona: Airya, Sairima dan Tura menjadi pewaris dari Persia;

Ini mirip Shem,  Ham dan Japhet-nya versi Semit. Yudaisme dengan kuat dipengaruhi oleh Zoroastrianisme jika  dipandang dari  sudut ilmu angelologi dan demonolog, dan mungkin juga dalam doktrin kebangkitannya.

 

Zoroastrianisme & Islam

Islam jelas terpengaruh oleh ajaran Yudaisme dan Kristen. Beberapa kemiripan Yudaisme dan Kristen terhadap Zoroastrianisme di atas juga ada dalam ajaran Islam.

Penulis islamis pertama yang menganggap serius ide pengaruh langsung Zoroastrianisme terhadap islam mungkin adalah Goldziher, yang mana artikel-artikelnya banyak dikutip di bab ini.

Kemenangan muslim atas tentara Sassanian Persia pada perang Qadisiyah tahun 636M, menandai awal kontak langsung dua masyarakat ini. Kontak dua budaya ini punya pengaruh sangat besar pada Arab dan Islam. OrangPersiayang masuk islam membawa pengertian baru mengenai kehidupan religius ke dalam Islam.

Konsep Negara Agama

Ketika dinasti Umayyah digulingkan, dinasti Abbasiyah mendirikan negara teokratis dibawah pengaruh religio-politisnya Persia; Revolusi Abu  Muslim yang membawa Abbasiyah kepuncak kekuasaan aslinya bisa disebut sebagai sebuah gerakan berbau ‘Persia’. Abbasiyah mengadopsi banyak tradisi dari kaum Sassanian: mereka memakai gelar RajaPersia, meski mereka sadar akan hubungan pengertian antara institusi kalifah dengan konsep kerajaannyaPersia; kerajaan mereka berupa negara agama/ulama dan merekalah yang menjadi pemuka agamanya; seperti kaum Sassanian mereka menganggap diri mereka suci. Ada hubungan yang sangat dekat antara pemerintahan dan agama, sebuah hubungan yang saling ketergantungan, sebuah persatuan yang sempurna terbentuk didalamnya. Pemerintahan dan agama menjadi identik dan dg demikian agama menjadi pemerintah bagi orang-orang lainnya.

Tentang Mengaji

Konsep pembacaan ayat- ayat Quran sangat mirip dengan kepercayaan Persia yang juga suka membacakan ayat-ayat dari Avestan Vendidad. Mereka sama-sama yakin dg membacakan Kitab Suci akan membantu meringankan tugas manusia dari segala kekurangan yang didapatkan di bumi; ini penting selain bagi negara juga bagi keselamatan jiwa  masing-masing individu. Baik  muslim maupun Zoroastrian suka membaca kitab-kitab mereka sampai berhari-hari setelah kematian salah seorang keluarga.

Tentang Mizan

Doktrin Islam mengenai Mizan atau timbangan (Surah 21.47), yaitu timbangan yang dipakai utk menimbang perbuatan semua  manusia, jelas berasal dari Persia. Dalam konsep ‘timbangan’ ini, umat Islam diperhitungkan nilai dari perbuatan baik dan jahatnya, seperti praktik timbangan yang sebenarnya. Nabi pernah berkata: Siapapun yang mengucapkan doa diatas tandu jenazah mendapatkan satu kirat tapi yang hadir pada saat jenazah dikebumikan mendapat dua kirat yang mana beratnya sama dengan berat gunung Chod. Sholat berjamaah punya nilai dua puluh limakali lebih banyak dari sholat individu. Dan lain sebagainya.

Menurut ajaran Islam, pada hari Kiamat, malaikat Jibril akan memegang timbangan ini,  sebelah menggantung diatas surga dan yang lainnya diatas neraka. Mirip dalam Parsisme, ketika hari kiamat dua malaikat akan berdiri pada jembatan penghubung surga dan neraka, memeriksa setiap orang yang lewat. Satu malaikat yg  mewakili Kemurahan Hati Tuhan, memegang timbangan ditangannya utk menimbang semua perbuatan baik orang ini,  jika perbuatan baiknya lebih banyak dia akan dilewatkan ke surga; sebaliknya malaikat kedua mewakili keadilan Tuhan, menimbang perbuatan jahat dan akan melempar mereka ke neraka.

Tentang Shalat

Sholat lima waktu muslim juga mirip dengan agama asli Persia ini. Muhammad sendiri, mulanya menetapkan dua sholat saja. Lalu, seperti ditulis dalam Quran, sholat ketiga ditambahkan, menjadi  sholat subuh, sholat magrib dan sholat ashar, yang berhubungan dengan tradisi Yahudi Shakharith, Minkah dan Arbith.

Terjadinya interaksi dengan kaum Zoroastrian tentu memberikan pengaruh. Semangat religius kaum Zoroastrian dikenal sangat tinggi. Ini kemudian berujung pada penetapan shalat lima waktu sebagai standar tingkat religiusitas muslim. Hal ini sama benar dengan kebiasaan Gahs (sholat)-nya orang Persia.

Selain pengaruh Persia terhadap islam yang masuk melalui Yudaisme dan Kristen, interaksi sosial budaya juga menjadi salah satu pemicu masuknya budaya Persia sejak masa Arab Pra Islam.

Para pedagang Mekkah secara teratur melakukan kontak dengan budaya Persia; sementara banyak juga penyair Arab suka berkelana ke kerajaan Arab di al-Hira dekat Efrat, dimana kerajaan ini sudah lama berada dibawah pengaruh Persia dan seperti Jeffery katakan, “kerajaan ini menjadi pusat utama dari pencampuran budaya Iran diantara orang Arab,”. Para penyair seperti  al-Asha, menulis puisi-puisi yang sepenuhnya memakai kata- kata Persia.

Sejumlah besar kata-kata Persia dari Avestan dan Persia Tengah (Pahlavi) serta  ungkapan-ungkapan lain  muncul pula di Arab. Bahkan ada bukti kaum berhala Arab ada yang menjadi pemeluk Zoroastrian. Pengaruh Persia juga bisa dirasakan di Arab Selatan, dimana para pegawai pemerintah Persia memerintah disana atas nama Sassanian. Malah kita punya kesaksian dari Quran langsung, yang menyebut orang Zoroastrian sebagai orang Majusi dan menyebut serta mensejajarkan mereka dengan orang Yahudi, Sabian dan Kristen, sebagai orang-orang percaya (surah 22.17).

Ibn  Hisham, penulis biografi Muhammad, mengatakan bahwa ada seseorang bernama an- Nadr ibn al-Harith yang biasa bercerita pada orang Mekah kisah-kisah ‘Rustem the Great’ dan tentang Isfandiyar serta Raja-raja Persia, orang ini selalu sesumbar bahwa kisah-kisah dari Muhammad tidaklah lebih baik dari kisah-kisah yang dia ceritakan. Torrey: “sang nabi melihat para pendengarnya menghilang, dan menjadi dendam pada orang ini, dendam yang kemudian dia lampiaskan setelah perang Badar. An-Nadr ditangkap dan membayar semua ceritanya  dengan  nyawa.” Kita juga belajar dari Ibn Hisham bahwa diantara para sahabat nabi ada seorangPersiabernama Salman, yang menceritakan pada Muhammad tentang agama nenek moyangnya.

Hari Sabat

Muhammad juga terpengaruh Zoroastrian mengenai sikapnya tentang hari Sabat dan sikapnya yg  menentang gagasan Tuhan perlu istirahat setelah menciptakan dunia dalam enam hari. Teolog Parsi juga mengambil posisi yang sama, menentang hari Sabatnya Yahudi. Bagi Muhammad dan semua muslim, Jum’at bukanlah hari Sabat, hari istirahat, tapi sebuah hari dimana orang-orang berkumpul utk melakukan penyembahan kultusnya.

Buraq

Menurut hadis, Muhammad melakukan perjalanan kesurga, dimana dia bertemu malaikat Jibril, Musa dan Ibrahim dkk,  menaiki seekor binatang  bernama Buraq, binatang bersayap dua, putih, sebesar kuda. Buraq kabarnya mirip dengan binatang khayal orang-orang Assyrian, Gryphon, telah ditunjukkan oleh Blochet bahwa konsep muslim banyak yang berasal dari ide-ide orang Persia. Perincian dari kenaikan kesurga ini juga mirip dengan literatur Zoroastrian.

Kenaikan kesurga (atau Mi’raj)  dapat dibandingkan dengan kisah Pahlavi dalam teks yang disebut Arta Viraf  (atau Artay Viraf)  yang ditulis beberapa ratus tahun sebelum era Muslim.Parapendeta Zoroastrian merasa iman manusia telah memudar lalu mereka mengirim Arta Viraf  ke surga utk mencari tahu apa yang telah terjadi. Arta naik dari satu surga ke surga lainnya dan akhirnya berhasil kembali ke bumi utk memberitahu orang-orang apa yang telah dia lihat disana:

Kenaikanku yang pertama adalah ke surga terendah;. Dan  disana kami lihat malaikat yg bersinar menyilaukan. Dan  aku tanya Sarosh sang suci dan Azar sang Malaikat: “Tempat apakah ini, dan siapakah mereka?” [Kami lalu  diberitahu bahwa Arta juga naik kesurga kedua dan ketiga.] “bangkit dari  singgasana emasnya, Bahman sang Malaikat kepala, ia mengantarku hingga bertemu Ormazd yang bersama sekelompok malaikat dan para pemimpin surga, semuanya bersinar cemerlang, sinar yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Pemimpinku berkata: Inilah Ormazd. Aku mengucap  salam padanya dan dia  berkata senang sekali menyambutku yg datang dari  dunia ketempat bersinar dan suci ini.. Akhirnya guideku dan malaikat api  setelah menunjukkan surga membawaku ke neraka; dan dari tempat gelap dan mengerikan itu  membawaku keatas ketempat yang sangat indah dimana Ormazd dan kelompok malaikatnya berada. Aku dg semangat menyalami dia, lalu  dia  dengan ramah berkata: “Arta  Viraf, pergilah kedunia, kau telah melihat dan sekarang tahu mengenai Ormazd, karena akulah Dia; yang Sejati dan Benar, Dia yang aku kenal.

Tentang Sirat

Dalam hadis kita juga mengenal sebuah ‘jalan’, Sirat. Kadang disebut jalan yang lurus, tapi seringnya istilah ini dipakai utk menyebutkan sebuah jembatan yang menyeberangi neraka. Jembatan tsb lebih tipis dari sehelai rambut (yg  dibelah tujuh) dan lebih tajam dari sebilah pedang, dan dihiasi oleh hal-hal cemerlang pada satu sisi dan onak duri pada sisi  lainnya. Orang-orang saleh akan mampu melewatinya dengan mudah, tapi orang jahat akan terpeleset dan jatuh kedalam neraka.”

Ide  ini jelas-jelas berasal dari sistem Zoroastrian. Setelah kematian, jiwa  manusia harus menyeberangi Jembatan Chinvat Peretu, yang  setajam silet bagi orang-orang jahat dan membuatnya tak mungkin bisa terlewati.

Agama-agama dari India dan Iran mempunyai  warisan budaya yang sama, karena nenek moyang mereka berasal dari keturunan yang sama – Indo  Iranian, lalu mencabang menjadi  bangsa yang  lebih besar lagi, Indo-Eropa.  Dg  demikian tidaklah heran jika menemukan tentang ‘jembatan’ (Chinvat Peretu) dalam teks Hindu kuno (misal, Yajur  Veda).

Tentang Surga

Bayangan islam mengenai surga juga mirip dengan  kisah-kisah dariIndiadanIran. Teks Zoroastrian, Hadhoxt Nask, menjelaskan nasib sebuah jiwa  setelah kematian. Jiwa orang baik diam dekat mayatnya selama tiga hari, dan pada hari ketiga jiwanya akan menyaksikan perwujudan dalam bentuk seorang gadis cantik, perawan 15 tahun; lalu mereka bersama naik ke surga. Imajinasi ini mirip juga dengan kisah Hindu, Apsarasa, dijelaskan adanya ‘dewi menggairahkan yang tinggal di surganya Indra’ [9] dan kadang sering berupa para penari dari para dewa, tapi mereka juga yang menyambut jiwa-jiwa yg  masuk dalam surga. “Mereka adalah hadiah bagi penghuni surga Indra, para penghuni yang gugur dimedan laga.”

Dg demikian, kisah Hindu dalam segala hal mirip dengan bayangan islam akan surga, berikut adegan-adegan menggiurkan dari para Houris (bidadari) dan perawan, hal ini menimbulkan kehebohan dikalangan para komentator Kristen awal.Paraperawan ini juga ditawarkan di surga bagi para pejuang muslim yang meninggal dijalan Allah. Dalam beberapa ayat Quran dinyatakan penjelasan tentang surga yang bersumber dariPersia: “ibriq.” Kendi air; “araik,” dipan-dipan. Yang dikatakan Jeffery mengenai subjek ini adalah: “Sepertinya sudah pasti bahwa kata “houri” (artinya gadis berkulit putih), yg  dipakai orang Arab Utara adalah diambil dari komunitas Kristen, dan lalu  Muhammad, dibawah pengaruh bahasaIranmemakainya utk menjelaskan perawan surganya.”

Teks Pahlavi yang menjelaskan surga membicarakan sebuah taman, dimana segala macam bunga dan pohon tumbuh. Ini mengingatkan kita pada Taman Surga (Surah 56.12-39; Surah 76.12-22; Surah 10.9; Surah 55.50): “Dan  bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga. . .  kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan. . .  Di dalam kedua surga itu  ada dua buah mata air yang mengalir. . .  Di dalam kedua surga itu  terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan.”

Insan Kamil

Ada kemiripan yang kuat antara konsep Zoroastrian tentang manusia sempurna dan konsep Sufi  dalam Islam mengenai manusia sempurna. Kedua keyakinan itu  membutuhkan niat yg  kuat utk ibadah agar bisa diterima menjadi sempurna. Keduanya sama-sama punya angka2 keramat atau takhyul: misal, angka 33 punya arti penting dalam ritual Parsi, dan dalam islam: 33 malaikat membawa orang sholat kesurga; ketika serangkaian doa-doa suci disebut kita temukan tentang adanya 33 tasbih, 33 tahmid, 33 takbir dan seterusnya.

Beberapa persamaan di atas sedikit banyak telah menggambarkan betapa masing-masing agama yang kita kenal saat ini sesungguhnya hanyalah ramuan dari agama dan kepercayaan yang ada sebelumnya. Ini semua adalah sebuah keniscayaan ketika manusia berinteraksi satu sama lain. Sehingga, sungguh tidak masuk akal jika ada kaum atau penganut agama tertentu yang dengan sombong mengklaim diri mereka sebagai “YANG PALING BENAR”.

Sumber :

-Boyce, Mary, dalam History of Zoroastrianism, Vol.I 1975 & Vol.II 1982.Leiden: Brill

-Widengren ‘Iranian Religions’ dalam Encyclopaedia  Britannica XI

-Hinnels,  dalam Numen 1969.

-‘Zoroastrianism,’ dalam Jewish Encyclopaedia

-Goldziher, Ignaz. “Parsism and Islam.” Dalam Revue de l’histoire des religions, vol.43 1901

-Jeffery, Arthur. dalam The  Foreign Vocabulary of the Koran.Baroda, 1938

-Torrey, C.C.  dalam The  Jewish Foundation of Islam.New  York, 1933

-Tisdall, William. dalam Original Sources of Islam.Edinburgh,  1901

-Stutley, M.J. A Dictionary of Hinduism.London, 1977

-Dowson. Hindu Mythology and Religion.Calcutta, 1991

-Jeffery, Arthur. The  Foreign Vocabulary of the Koran.Baroda, 1938

-Ashtiani, Abbas Iqbal and Pirnia, Hassan. Tarikh-eIran(History ofIran),Tehran: Kayyam Publishing House, 1973

-Shadows in the Desert: AncientPersiaat War, By Kaveh Farrokh, Published by Osprey Publishing, 2007

-Ibnu Hisam & Ibnu Ishaq, Sirat Rasul Allah

9 Tanggapan to “Hubungan Zoroastrianisme Terhadap Agama Abrahamik”

  1. sistematix said

    terima kasih atas artikelnya sangat bermanfaat. saya sendiri juga mempelajari kemiripan Zoroaster dengan agama abrahamic bahkan buddha, buddha memiliki ajaran pikiran yg baik, ucapan yg baik dan perbuatan yg baik yg jelas2 ini sudah dipopulerkan lebih dulu oleh zarathustra

  2. Jack said

    Zarathustra adalah pembaharu agama dari Persia kuno (dalam istilah Persia Zardust) Istilah modern Agama Majusi (Zoroaster) diadopsi oleh bahasa Yunani dan Latin. Dalam hymne-nya, nampaknya dia seorang nabi, dengan panca-roba antara keyakinan dan keprihatinan, tetapi dengan pegangan teguhnya kepada Tuhan yang dipertahankan dalam mengalami segala perubahan nasib.Ayahnya menyandang titel Spitmed. Dia memperoleh rukyah di usia muda dan berwawan-sabda dengan para malaikat serta Yang Tertinggi. Keyakinannya atas dakwah dan risalahnya yang suci dihembuskan dengan kata-kata:

    Sayalah pilihan-Mu sejak awal, segala yang lain saya anggap musuhku. Kepada-Mu saya mengaduh.

    Tataplah aku wahai Tuhan, dan berilah saya pertolongan, sebagai seorang kawan yang menghadiahkan kepada kawan yang disayangi. Katakan kepadaku sebenarnya, wahai Tuhan, dengan amal salih manusia yang akan siap diganjar sebelum kehidupan yang terbaik tiba, Yang memelihara bumi di sini di bawah ini sehingga mereka tidak jatuh? Yang membuat air dan tetumbuhan (Yasht 44:3-5).

    Zoroastrianisme (Agama Majusi), yang umum dikenal sebagai Parsi-isme adalah agama kuno Persia. Ini adalah agama orang-orang Iran sebelum Islam. Agama ini juga disebut agama penyembah api dan Magianisme. Kitab suci agama kaum Parsi diketemukan dalam dua bahasa Zendi dan Pahlvi. Disamping dua ini, beberapa kepustakaan dalam tulisan Cuneform juga diketemukan. Naskah Pahlvi menyerupai naskah Persia kini, tetapi Zendi dan Cuneform itu berbeda bentuknya. Dalam kitab suci Iran kuno ada dua pembagian penting, satu dikenal sebagai Zend Avesta atau Avesta Zend, dan yang lain adalah Dasatir. Masing-masing dari mereka dibagi lagi dalam dua bagian Khurda Avesta dan Kalan Avesta, juga dikenal Zend dan Maha Zend, Khurda Dasatir dan Kalan Dasatir. Begitu banyak versi yang berbeda-beda di sana, yang mengenai jumlah, bahasa, serta periode wahyu dari kitab-kitab ini tak ada suatupun yang bisa dipastikan (1). Ada sebelas pengucapan nama Zarathustra (Zoroaster) yang berbeda-beda, yang katanya menjadi ketua pengarang kitab-kitab ini. Apa arti nama Zoroaster itu meragukan. Begitu pula tak ada yang secara pasti bisa mengatakan dimana dia itu berasal dan dimana dia dilahirkan (2). Beragam perbedaan ini mendorong beberapa pakar berpendapat bahwa pribadi Zoroaster itu sesungguhnya hanya fiktif dan khayalan.

    Dipercayai oleh penganut Majusi bahwa agama mereka berasal dari zaman yang sangat kuno, tetapi banyak orientalis serta pakar peneliti yang tidak setuju dengan pendapat mereka, dan juga telah menunjukkan melalui fakta sejarah bahwa agama ini telah mengambil beberapa kebajikan dari legenda Yahudi serta mitologi Yunani. Penyiaran agama Majusi ini sejak dahulu terbatas hanya di negeri Persia. Namun, tercatat dalam Dasatir, bahwa Shankara Kas dan Vyasaji, dua penguasa India, setelah lama berbincang bisa diyakinkan akan kebenaran agama ini, dan karenanya mulai mengajarkannya di India (Dasatir, Namah Sasan). Begitu pula, kita temukan dalam Zend Avesta Farvardin Yasht bahwa Buddha telah berdebat dengan mereka lalu mengalahkannya, tetapi anekdot ini tidak dapat dibuktikan apakah lalu agama Weda disiarkan di Persia ataukah keyakinan Persia ini disebarkan di India. Tidak ada catatan sejarah bisa diperoleh untuk menunjang teori ini. Hanya ini yang bisa disimpulkan yakni bahwa baik orang Iran maupun India hanya mempunyai titik persinggungan dalam agama masing-masing. Baik dharma Weda maupun Parsiisme bukanlah suatu agama dakwah dan karenanya mereka hanya terbatas pada perbatasan masing-masing wilayahnya sendiri. Kaum Majusi menganggap dirinya monoteis tetapi orang-orang lain menganggap bahwa mereka itu mempercayai dua tuhan. Mereka menyebut tuhannya sebagai Ahur mazda. Ahur berarti Tuan dan Mazda bijaksana, jadi nama tuhannya adalah ‘Tuan Yang-bijaksana”.

    HUBUNGAN AJARAN ZOROASTER DAN AGAMA LAINNYA.

    Bagian awal dari ajaran Zarathustra dikenal sebagai Gatha. Kita juga menemukan sebutan Gatha dalam Weda. (3) Tetapi tidak ada disebutkan Weda serta kitab Hindu lain-lainnya dalam kitab suci agama Majusi. Ini menunjukkan bahwa Gatha itu lebih tua dari Weda. Begitu pula, dalam Weda ada rujukan tentang Purana (Yajusha Purana) yang kenyataannya adalah Yajush sah puranam (yajush datang dari Puran). Yajush ini adalah bagian dari kitab suci parsi Zend Avesta. Dan menurut pendeta Hindu, Purana itu tidak lebih tua dari Weda tetapi Weda lebih tua dari Purana, meskipun aneh juga untuk melihat bahwa Purana yajush ha ada terdapat di Zend Avesta dan bahkan di Weda. Karena itu beberapa pakar menyimpulkan bahwa purana tertentu itu lebih tua daripada Weda.

    Suatu bagian yang patut direnungkan dalam ajaran Zoroastrian adalah juga kemiripannya dengan ajaran Alkitab dan al-Quran.Di bawah ini kita berikan beberapa petikan dari persamaan semacam itu.

    Penciptaan dari alam semesta ini lengkap dalam enam periode masa. Ahurmazda pertama menciptakan langit, lalu air, kemudian bumi, lantas tanaman, kemudian hewan dan pada akhirnya, Dia ciptakan manusia. Manusia itu dilahirkan sepasang, yang dikenal sebagai Mashya dan Mashyoi (lelaki dan perempuan). Pasangan manusia pertama ini tumbuh selama empat-puluh tahun sebagai tanaman dan kemudian berubah dalam bentuk laki-laki dan wanita. (4) Tuhan mengatakan kepada Yim (Nuh) bahwa suatu badai salju yang ganas akan segera terjadi, yang akan membinasakan para pembuat kejahatan. Nuh kemudian diminta untuk membuat bangunan di bawah tanah dan mengumpulkan di dalamnya sepasang tanaman, binatang, serta manusia. Demikianlah hal itu dilaksanakan, dan kecuali mereka yang terlindung di gua itu, maka semua ciptaan binasa. Yim atau Nuh dinyatakan sebagai nabi pertama yang memberi Syariah, tetapi dinyatakan bahwa dia menurun dalam megajarkan kenabiannya, sehingga karena itu Zarathustra menjadi pemberi hukum yang pertama (Vendidad, 11:4).

    AJARAN ZARATHUSTRA DIBENARKAN OLEH NABI SUCI MUHAMMAD

    Al-Quran menekankan:
    “Allah (Tuhan) itu Esa (Q.S.112:1). Tetapi Ke-Esaan-Nya bukanlah satu hal yang numerikal. Ini adalah atribut personal dari-Nya. Islam menyatakan Ke-Esa-an mutlak dari Dzat Ilahi dan menjatuhkan pukulan maut terhadap segala bentuk politeisme termasuk tiga dalam satu atau satu dalam tiga (Trinitas) yang adalah numerikal. Ke-Esa-an Dzat Ilahi dalam Islam berarti tak suatupun yang dapat dibandingkan dengan Dia. Satu dari numerikal itu bisa dibandingkan dengan dua atau tiga atau empat dan dia mempunyai pecahan 1/2,1/3,1/4 dan seterusnya. Ada dua kata Arab yang berbeda yakni ‘wahid’ dan ‘ahad’; wahid untuk satu yang numerikal tetapi ‘ahad’ adalah yang tidak punya pecahan dan tak satupun yang bisa dibandingkan atau paralel dengan-Nya.

    Zarathustra (Zoroaster) menyatakan:
    ‘Dia adalah Esa tetapi bukannya satu dari bilanagan’ (Nama Shat Vakhshur Zarthusht Dasatir halaman 69).

    Al-Quran menekankan: “Tak ada satupun yang menyerupai Dia” (Q.S.112:4). Zoroaster menyatakan: Dia tak punya suatupun yang menyerupaiNya. (Nama Shat Vakhshur Zarthusht Dasatir halaman 69).

    Al-Quran menekankan: “Tak ada sesuatu yang seperti Dia” (Q.S. 42:11). Zoroaster menyatakan: Tak suatupun yang mirip dia.(Dasatir halaman 70).

    Al-Quran menekankan: “Allah ialah yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Ia tak berputera, dan tak diputerakan” (Q.S.112:2-3).
    Zarathustra menyatakan: Dia tanpa asal atau akhir, tanpa sekutu, musuh, prototip, kawan, ayah, ibu, isteri, putera, tempat tinggal, jasad, atau bentuk, dan tanpa warna serta indera. (Dasatir halaman 71).

    Al-Quran menekankan: “Dia Yang menciptakan segala sesuatu, lalu menentukan ukurannya”(QS.25:2).
    Zoroaster menyatakan: “Dia memberi kehidupan dan kehadiran dari segala sesuatu”(Dasatir halaman 3).

    Al-Quran menekankan: “Penglihatan tak dapat menjangkau Dia, dan Dia menjangkau (semua) penglihatan, dan Dia itu Yang Maha-tahu, Yang Maha-waspada (Q.S. 6:104) dan hanya dapat dilihat dengan mata ruhani.
    Zarathustra menyatakan: “Tiada mata bisa melihatNya ataupun tenaga fikiran bisa menangkap-Nya.” (Dasatir hal.68).

    Al-Quran tidak saja membuat pernyataan, melainkan juga memajukan alasannya. Dzat yang meliputi semua penglihatan, dan yang pada saat yang sama adalah Dia yang canggih dalam pemahaman serta tak terbatas. Tuhan tak dapat ditangkap dengan mata fisik. Dia itu Yang Ghaib. Fakta ini juga dinyatakan dalam dasatir “Katakan ke dunia bahwa Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata wadag beberapa mata yang lain diperlukan untuk menangkap-Nya” (Dasatir halaman 107).

    Al-Quran menekankan: Materi dan jiwa itu tidak kekal seperti Dia: “Yang menciptakan segala sesuatu, lalu menentukan ukurannya”(Q.S. 25:2).
    “Dia ialah Yang Pertama, dan Yang Terakhir, dan Yang Tersembunyi, dan Ia Yang Maha-mengetahui”(Q.S. 57:3).
    Zarathustra menyatakan: Engkau adalah yang paling Awal, tak suatupun sebelum Engkau” (Dasatir
    hal.66).

    Al-Quran menekankan: “Dan kedudukan yang paling luhur di langit dan di bumi adalah kepunyaan Dia” (Q.S. 30:27).
    Zarathustra menyatakan: “Dia itu di atas segala sesuatu yang dapat kaubayangkan” (Dasatir hal.33).

    9. Al-Quran menekankan: “Janganlah putus asa dari rahmat Allah” (Q.S. 39:53).
    Zarathustra menyatakan: “Janganlah kecewa atas kebaikan dan rahmat-Nya” (dasatir halaman 33).

    Al-Quran menekankan: “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Q.S. 50:16).
    Zarathustra menyatakan: “Kami lebih dekat kepadamu daripada dirimu sendiri” (Dasatir hal.122).

    Al-Quran menekankan: “Dan tiada yang tahu balatentara Tuhan dikau selain Dia!”(Q.S.74:31).
    Zarathustra menyatakan: “Malaikat itu tiada terbilang” (Dasatir halaman 6).

    Al-Quran menekankan: “Dan sesungguhnya ia(Jibril) menurunkan Quran dalam hati engkau dengan izin Allah” (Q.S. 2:97).
    Zarathustra menyatakan: “Tuhan berfirman kepada Adam kata dari Tuhan adalah yang diwahyukan malaikat ke dalam hatimu” (Dasatir hal.37).

    Al-Quran menekankan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat baik, mereka memperoleh jamuan taman Firdaus” (Q.S.18:107).
    Zoroaster menyatakan: “Bila seorang dengan amalan yang baik meninggalkan tubuhnya ini maka Aku akan mengirimkan dia ke Surga” (Dasatir halaman 13).

    Al-Quran menekankan: “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di Taman dan air mancur. Masuklah di sana dengan damai, aman. Dan Kami akan mencabut apa yang ada dalam hati mereka berupa dendam-kesumat (sehingga mereka) seperti saudara, (duduk) di sofa berhadap-hadapan. Di sana mereka tak akan terkena lelah, dan mereka tak akan diusir dari sana”(Q.S. 15:45-48).
    Zoroaster menyatakan: “Para penghuni Surga akan memperoleh melalui kasih-sayang Tuhan, semacam tubuh yang tiada akan lelah ataupun menjadi tua ataupun sesuatu yang kotor, akan bisa msuk ke dalamnya” (Dasatir hal.9). “Mereka akan hidup selamanya dalam tempat tinggal yang penuh kebahagiaan” (Dasatir halaman 13).

    Al-Quran menekankan: (Neraka) “Di sana mereka tak akan merasakan kesejukan dan tak (merasakan pula) minuman. Kecuali air mendidih dan air yang keliwat dingin”.(Q.S. 78:24).
    Zoroaster menyatakan: “Penghuni neraka akan tinggal di sana selamanya, mereka akan disiksa baik dengan panas menyengat maupun dingin menggigil” (Dasatir halaman 38).

    Disamping itu, kita dapati dalam Dasatir, perintah mengenai sikap kesatria, kesucian perkawinan, menepati janji, larangan terhadap miras, pemotongan rambut terhadap kelahiran anak, membersihkan tubuh dengan mandi, wudhu dan tayammum dan sebagainya.(5)

    Tiga macam cara turunnya wahyu Ilahi digambarkan dalam sebuah rukyah di dalam keadaan antara mimpi dan jaga serta waktu sedang terjaga. (Nama Shat Vakhshur Zartusht, 5-7).
    Dua jenis perintah (menentukan dan kiasan) (Nama Shat Vakhshur Zartusht, 5-7).
    Seorang nabi diperlukan untuk memaksakan hukum semacam itu yang setiap orang harus mematuhinya (Nama Shat Vakhshur Zartusht hal.5). Manusia itu saling bergantung dan mereka siaga membutuhkan hukum Ilahi yang hisa diterima semuanya, yang dapat mencabut tirani, kebohongan dan buruk-sangka serta memberikan kedamaian dan harmoni ke dunia. Para pembawa syariah ini harus seorang yang mendapat ilham Ilahi sehingga semua orang bisa tunduk kepadanya”.(Nama Shat Vakhshur Zartusht, halaman 45-49).

    Menyangkut pengakuan terhadap seorang nabi, Zarathustra berkata:

    “Mereka bertanya kepadamu bagaimana mereka bisa mengenali seorang nabi dan mempercayai kebenaran apa yang dikatakannya; mengatakan kepada mereka apa yang diketahuinya yang orang-orang lain tidak tahu, dan dia akan memberitahumu bahkan apa yang tersembunyi dibalik fitrahmu; dia akan bisa menyatakan padamu apa yang kautanyakan dan dia akan memperagakan perkara yang orang lain tak dapat memperagakan” (Ibid halaman 50-54).

    Ketika para sahabat Nabi Suci, menyerbu Persia dan berhubungan dengan umat Majusi serta mempelajari ajaran-ajarannya, mereka seketika berkesimpulan bahwa Zarathustra (Zoroaster) itu sungguh seorang Nabi yang menerima wahyu Ilahi. Jadi mereka menyesuaikan perlakuannya kepada umat Majusi sebagai “Ahli Kitab” yang lain. Meskipun nama Zoroaster itu tidak terdapat dalam Quran Suci, tetap dia dianggap sebagai satu dari para nabi yang tidak disebut dalam al-Quran, karena ada suatu ayat dalam Kitab Suci ini yang berfirman:

    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus para Utusan sebelum engkau; sebagian mereka ada yang Kami kisahkan kepada engkau, dan sebagian dari mereka ada yang tak Kami kisahkan kepada Engkau” (Q.S. 40:78).

    Sesuai dengan itu kaum Muslimin memperlakukan pendiri agama Majusi (Zoroastrianisme) sebagai seorang nabi yang benar dan mempercayai agamanya seperti yang telah mereka lakukan kepada kredo samawi yang lain, dan karenanya sesuai dengan nubuatan ini, melindungi agama Majusi. James Darmestar telah sejujurnya mencatat hal ini dalam terjemah Zend Avesta:

    “Pada waktu Islam mengasimilasi umat Zoroastrian menjadi Ahli Kitab, ini mengungkap perasaan sejarah yang jarang terjadi dan memecahkan masalah asal-usul dari Kitab Avesta”.(6)

    ——————————————————————————–

    1. Kerusakan juga mudah menemukan jalannya ke dalam kitab-kitab akibat persamaan dari huruf Pahlevi, seperti misalnya vouru (luas) bila ditulis dalam huruf Pahlevi sering identik dengan varen (hasrat).

    2. Nemo dari Avesta diterjemahkan dalam Pahlevi sebagai Niyaysn (pujian) yang seolah seperti vokhshisn (meningkat).

    3. Bandingkan pendahuluan Gatha Sarodhai Zarthustra, diterbitkan oleh Iranian Association of Zoroastrian, 1927.

    4. Atharva Veda, 15:6.12.6 11:7.24.7. Dalam Bundahish ditulis: “Ahur Mazda pertama membuat langit dan kemudian cahaya dunia, kedua air, ke tiga bumi, ke empat tanaman, ke lima hewan, ke enam manusia, 1:21.28).
    Adanya manusia dari Mashya dan Mashyoi hingga datangnya ‘Saoshyant’ berlangsung hanya 6000 tahun,
    Ibid. 4/1,15.1 Encyclopaedia of Religion and Ethics, jilid I halaman 209.

    5. Wudhu, dalam agama Majusi itu sama seoerti dalam al-Quran: Yakni pada pagi hari ketika bangun tidur pertama-tama perlu membersihkan tangan dengan sesuatu setelah itu mereka mencuci tangan sebersih-bersihnya dengan air, dengan cara sedemikian hingga mereka membersihkan tangan tiga kali dari siku sampai ujung jari, dan muka dari belakang telinga hingga di bawah dagu.

    Tayammum yakni ketika air tak ditemukan atau kiranya bisa merugikan dirimu dengan mengambil tanah yang suci dan menghapus wajah dan tangan dengan debu.
    6. Sacred Books of the East jilid 24 halaman 337.

    James Darmestar, Introduction to Vendidad hal.69.

  3. […] https://kursusislam.wordpress.com/2011/07/08/hubungan-zoroastrianisme-terhadap-agama-abrahamik/, 13 Apr. 13 […]

  4. […] https://kursusislam.wordpress.com/2011/07/08/hubungan-zoroastrianisme-terhadap-agama-abrahamik/, 13 Apr. 13 […]

  5. hammersmith said

    menurut saya jika dikatakan islam mengadopsi majusi adalah suatu kebodohan, argumen yang memihak pada satu golongan,tidak cerdas dan naif..yang terjadi adalah majusi dan islam memiliki sumber redaksi yang sama yaitu dari Allah, jadi tidak aneh jika ada kemiripan di antara kedua agama tersebut, Rasullulah Muhammad berbicara berdasarkan pewahyuan dan tidak di pengaruhi oleh unsur2 luar..begitu juga zarathustra berbicara berdasarkan pewahyuan

    • cinta sunnah nabi said

      mas hammer,,,,anda ini ngawur sekali dlm menyimpulkan!! dg apa anda meyakini bahwa zarathustra berbicara berdasarkan wahyu?? sebaik nya anda sedikit baca aja dulu ttg agama kufur ini seblm punya kesimpulan yg sgt sesat dan parah seperti itu!! wahyu yg mana mas yg mengajarkan manusia untuk beribadah pada 5dewa 2 selain kepada sang pencipta????dan wahyu yg mana yg memberitakan ttg usia alam semesta ini 12000 tahun terbagi dlm 4 tahap masing2 3000 tahun dan terjadilah pertempuran 2 antara tuhan sang pencipta (tuhan bijaksana)dg tuhan lain yg jahat dan pengrusak??ini jelas jelas penuh dg kekufuran dan samasekali tdk ada nuansa keimanan yg terbimbing wahyu ALLOH ,,,,,sementara para rosul Alloh mereka mengajarkan dg ajaran yg sama (satu),,,,walaupun mereka terpisahkan oleh jarak dan waktu ajaran mereka adalah mentaukhidkan ALLAOH ttg penciptaan, peribadatan dan keagungan nama dan sifat 2 Nya ,sementara agama ini meniadakan samaseka li wujud dan sifat 2 sang pencipta yg di yakini mereka itu,,,,samasekali sgt jauh dari nuansa wahyu Alloh yg menghabarkan kepada kita bahwa .Alloh maha mendengar,,,maha melihat,,,dll dan hal itu wajib di imani tanpa menyerupakan Nya dg apa dan siapa pun dlm sifat 2 Nya tsb.md mdhan bisa jadi sebuah pencerahan bagi yg gelap hati dari informasi keislaman. matursuwun

  6. menurut saya pribadi ini suatu kebodohan apabila alquran yg suci dikatakan terpengaruh oleh kitab dari paham zoroastrianisme. yg ada itu bahwa alquran dan kitab yg dibawa oleh zaratustra berasal dari firman tuhan yg sama yaitu Allah Swt.

  7. cinta sunnah nabi said

    bisa jadi agamama zoroaster (majusi) ini mengadopsi sebagian dari keyakinan 2 agama tauhid yg turun pada para nabi sebelum nabi mukhammad saw.tapi telah tercemari dg keyakinan paganisme yunani dan filsafat 2 mereka hingga lahirlah agama sesat dan menyesatkan ini (majusi) , maka sgt wajar kl dlm beberapa prinsip 2 keagamaan mereka ada kemiripan dg agama para nabi karena sebagian dr agama mereka itu mereka mengadopsi nya dr ajaran para nabi dg penyelewengan beberapa perkara di dlm nya, ya jangan dibalik mas,,,,,kok malah islam yg mengadopsi dr agama kafir zoroaster ini??? kalau jadi wong guoblok ya jangan nemen nemen mas

  8. Ada apa dengan dirimu ! Menjelaskan akan hal yang tidak baik Islam disamakan dengan mereka kaum-kaum aneh kecuali sobi-in. Andai antum ketahui dalam hal Aqidah atau keyakinan yang benar itu tidak boleh disangkut-pautkan dengan yang tidak jelas kebenarannya. Demi Allah Maha Kekal Abadi Maha Adil Islam yakni orang-orang percaya serta para sobi-in dan para anti-monotheism yakni orang-orang percaya tidak kekal imannya dihadapan Allah Ta’ala yang dahulu di dunia difitnah Akan Memberikan segala hal disana mau itu dari Maghfiroh dan Azab itu semua hanya Dia Ta’ala yang Berkehendak atas hal tsb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: